Akulturasi Kebudayaan Indonesia dengan Kebudayaan Barat
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya. - Wikipedia
Berikut ini adalah akulturasi budaya Indonesia dengan kebudayaan barat :
Tradisi Panjang Jimat, Cirebon, Jawa Barat.
Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Dalam menyambut Maulid Nabi, Cirebon mempunyai acara yang khusus dan sakral bernama Muludan. Puncak perayaan yang diagungkan oleh masyarakat Cirebon tersebut adalah Panjang Jimat.
Panjang Jimat adalah salah satu acara yang terbesar di Cirebon dalam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. yang disebut Muludan. Tradisi Panjang Jimat ini merupakan tradisi hasil dari akulturasi budaya arab, china dan cirebon. karena pada prosesinya sangat kental terasa nuansa kebudayaan Arab serta nuansa China dicampur dengan kebudayaan Cirebon (Jawa).
Prosesi Panjang Jimat
Untuk lebih jelas berikut adalah prosesi acara Panjang Jimat:
Upacara panjang jimat merupakan puncak acara peringatan maulid Nabi di tiga keraton. Di keraton Kanoman, upacara digelar sekira pukul 21.00 WIB yang ditandai dengan sembilan kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat. lonceng inilah yang memberikan kesan kebudayaan China dalam prosesi panjang jimat.
Tidak hanya genderang lonceng dibunyikan, tanda pembukaan upacara panjang jimat juga ditandai dengan tiupan pluit yang mengisyaratkan kepada warga agar memberikan jalan bagi iring-iringan famili yang diikuti abdi dalem menuju langgar alit yang berjarak sekitar 500 meter.
Setelah pangeran komisi memberikan sungkem kepada Pangeran Patih, iring-iringan mulai berjalan. Pangeran patih bersama famili berada paling depan. Dalam perjalan menuju langgar alit, seluruh iring-iringan membacakan sholawat nabi.
Iring-iringan rombongan dikuti oleh rombongan wanita bangsawan yang tidak sedang datang bulan. Mereka membawa barang pusaka keraton, dan perlengkapan rumah tangga seperti piring-piring dari china, lodor, kendi dan barang peningglan sejarah lainnya.
Perjalanan rombongan diawali dari depan pendopo keraton, kemudian melewati Pintu Si Blawong yang dibuka hanya pada prosesi maulid saja dan berakhir di Masjid Agung Kanoman yang dibangun tahun 1679 Masehi.
Saat perjalanan menuju masjid, ribuan warga berebut memadati sepanjang jalan yang dilewati rombongan. Tidak sedikit, warga yang sengaja menghamiri sultan hanya untuk bersalaman dan berharap mendapat berkah. Setelah tiba di masjid, seluruh rombongan duduk rapi di dalam masjid. Ditempat itu, turut dibacakan riwayat Nabi, pembacaan barjanji, kalimat Thoyyibah, sholawat Nabi dan ditutup dengan berdoa bersama.
Setelah acara usai, sekira pukul 24.00 WIB seluruh nasi dan lauk pauk yang dibawa rombongan dibagikan kepada keluarga sultan, famili, abdi dalem, dan seluruh warga yang berada di luar halaman masjid.
Setelah proses doa bersama selesai, seluruh rombongan kembali ketempat semulia. Pangeran Patih dan famili langsung masuk kedalam keraton. Sementara, rombongan yang membawa benda pusaka kembali menuju langgar alit.
Akulturasi Budaya pada Tradisi Panjang Jimat
Kesan akulturasi budaya sangat terasa pada prosesi panjang jimat ini. Prosesi awal langsung dibunyikan lonceng sebagai tanda bahwa prosesi akan dimulai, lonceng ini memberikan kesan bahwa ada akulturasi kebudayaan China pada tradisi panjang jimat selain lonceng, piring-piring khas dinasti China dibersihkan bersama dengan benda-benda pusaka lain. Hal ini sangat memberikan nuansa kebudayaan China pada prosesi panjang jimat.
Selain nuansa kebudayaan China yang terasa pada prosesi panjang jimat, nuansa kebudayaan Arab pun sangat begitu terasa karena seluruh prosesi panjang jimat ini bertujuan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, sholawat bergema ketika pangeran berjalan, pembacaan kitab barjanji, dan lain sebagainya membuat panjang jimat memiliki nuansa akulturasi budaya dari kebudayaan Arab.
Prosesi sungkem pada panjang jimat serta prosesi pencucian keris dan benda-benda pusaka lainnya memberikan kesan bahwa prosesi panjang jimat juga memiliki nuansa kebudayaan Jawa.




0 komentar:
Posting Komentar